House of Allegiance, al-Ahsa

Di tengah-tengah padatnya distrik al-Kut, kota al-Hofuf, terdapat sebuah rumah bersejarah dimana Raja Abdul Aziz Al Saud pernah bermalam disini selama 3 hari, ketika penyatuan al-Ahsa masuk ke dalam wilayah Kerajaan Arab Saudi. Di rumah milik Syaikh Abdul Lathif al-Mulla ini, penduduk al-Ahsa membaiat Raja Abdul Aziz sebagai raja mereka mulai hari Ahad, 25 Jumadal Ula 1331 H/2 Mei 1913 M.

(Mendengarkan penjelasan Ustadz Yusuf bin Yusuf dari Saudi Commission for Tourism and National Heritage Cabang al-Ahsa tentang sejarah bergabungnya al-Ahsa di Rumah Bai’at yang disebut juga Rumah al-Mulla).

Al-Hofuf, Al-Ahsa, 30 Rabi’uts Tsani 1439 H/17 Januari 2018 M

Iklan

Benteng Ibrahim, al-Ahsa

Benteng Ibrahim merupakan sebuah benteng yang saat ini terletak di utara Distrik Al-Kut, kota al-Hofuf, al-Ahsa, Provinsi Timur, Arab Saudi, markas utama milik Turki Utsmani di al-Ahsa yang berada dibawah Provinsi Basrah, yang juga Pusat Pemerintahan. Raja Abdul Aziz Al Saud berhasil menguasai benteng ini pada malam 5 Jumadal Ula 1331 H/13 April 1913 M saat menyatukan wilayah al-Ahsa masuk ke dalam Kerajaan Arab Saudi. Kuat dan besarnya benteng Ibrahim ini menjadi bukti bahwa al-Hofuf merupakan wilayah yang penting dan kuat, karena temptnya yang strategis berada di jalur perdagangan penting dunia.

Jika anda datang dari arah Dammam maka anda akan melihat benteng yang besar ini di sebelah kanan, benteng dan masjid di dalamnya yang dibangun pada 978 H/1571 M, kemudian 100 tahun setelahnya digabungkanlah benteng, penjara dan pemandian Turki di dalam Istana ini.

Pasar al-Qaisariyah, al-Ahsa

Pasar al-Qaisariyah merupakan pasar bersejarah yang terletak di Distrik ar-Rif’ah, al-Ahsa, Provinsi Timur, Arab Saudi. Pasar tradisional bergaya Turki Utsmani ini dibangun pada tahun 1248 H/1822 M, terdiri dari 422 kios, 177 kios dimiliki oleh pemerintah dan 251 kios dimiliki oleh masyarakat setempat. Pada tahun 2001, terjadi kebakaran yang tidak diketahui penyebabnya, ada yang beranggapan akibat arus pendek listrik. Setelah itu pasar ditutup, 12 tahun kemudian tepatnya pada akhir tahun 2013, pasar ini kembali dibuka. Pasar al-Qaisariyah merupakan salah satu landmark kota al-Hofuf, para wisatawan dari berbagai negara-negara teluk, negara-negara Arab dan negara-negara lainnya mengunjungi pasar ini ketika mereka berwisata ke al-Ahsa.

Pada tahun 2015, pemerintah Arab Saudi mendaftarkan Lansekap Warisan Budaya Oasis al-Ahsa sebagai nominasi Situs Warisan Dunia UNESCO, dimana bangunan bersejarah yang ada di Oasis al-Ahsa ini terdiri dari Masjid Jawatsa, Istana Ibrahim, Istana Sahoud, Istana Mehairis, Istana Abu Jalal, Pelabuhan al-‘Uqair, Gunung Qara dan Pasar al-Qaisariyah.

Kereta Pertama dan Kereta Terakhir

23 Agustus 1908 menjadi tanggal yang ditunggu-tunggu, di hari itu Kereta Pertama Jalur Kereta Api Hijaz yang berangkat dari Stasiun Damaskus sampai di Stasiun Madinah. Perjalanan ini memotong waktu yang sebelumnya membutuhkan waktu 40 hari dengan unta, cukup 5 hari dengan kereta. Jika melaju tanpa henti kereta hanya membutuhkan waktu 72 jam perjalanan, namun kereta harus berhenti di stasiun-stasiun serta berhenti jika ada pergantian kereta

Pembangunan Jalur Kereta Api Hijaz oleh Pemerintah Turki Utsmani menghabiskan waktu 8 tahun (1900-1908), dimana Turki Utsmani menggelontorkan dana 3,5 Juta Lira Utsmani, yang tidak cukup membangun jalur sepanjang 1320 km. Akhirnya Penduduk Turki Utsmani dan Masyarakat Muslim dari negara-negara Islam lainnya urunan dana (crowdfunding) demi tercapainya pembangunan proyek besar ini
Pada tahun 1912, kereta mengangkut 30.000 jamaah haji asal Syam, Turki dan sekitarnya. Dan pada tahun 1914, terjadi kenaikan 10 kali lipat dimana kereta dapat mengangkut 300.000 jamaah haji. Kereta api Hijaz juga berdampak terhadap berkembangnya perdagangan, perekonomian dan pertanian di daerah sekitar, antara lain Haifa yang menjadi pelabuhan dan kota perdagangan penting
Perang Dunia I menyebabkan kereta tidak beroperasi sementara, Pada Perang tersebut Turki Utsmani berkoalisi dengan Blok Sentral (Jerman, Astro-Hongaria dan Italia), sedangkan Blok Sekutu diantaranya Inggris berkoalisi dengan kabilah-kabilah Arab. Agen Inggris Lawrence of Arabia mensabotase jalur ini, karena jalur ini membawa logistik militer Turki Utsmani. Hingga akhirnya pada 25 Februari 1918, kereta dengan nomor perjalanan ”105 S H” dan masinis Mahbub Ali al-Husaini al-Madani sampai di Stasiun Madinah, kereta tersebut menjadi kereta terakhir yang melewati jalur ini. (Foto di Stasiun Madinah, ujung dari Jalur Kereta Api Hijaz yang saat ini dialihfungsikan menjadi Museum Madinah)

Sekolah Para Menteri

Tsanawiyah Taiba adalah SMA pertama yang berdiri di kota Madinah pada 13 November 1943, dan SMA yang berdiri kedua di Arab Saudi setelah Madrasah Tahdhir al-Bi’tsat (مدرسة تحضير البعثات) di kota Makkah yang berdiri pada 28 September 1936. Pada awalnya Tsanawiyah Taiba hanya ditempatkan di sebuah rumah kecil, dengan harga sewa 60 riyal untuk 3 bulan, 1 Kepala Sekolah dan 5 Guru, dengan Angkatan Pertama 16 murid kelas 1 SMA, dan 19 murid kelas 2 SMA termasuk Sulaiman Fakieh (Dokter, Pengusaha & Pendiri Rumah Sakit dr. Sulaiman Fakieh di Jeddah) dan Ali Hasan asy-Sya’ir (Mantan Menteri Kebudayaan & Informatika Arab Saudi)
Pada 16 Mei 2013, dalam rangkaian kegiatan “Madinah Ibu kota Kebudayaan Islam 2013”, Gubernur Madinah YM Pangeran Faisal bin Salman bin Abdul Aziz Al Saud meresmikan Mujamma’ Darul Qalam dan Museum Pendidikan Madinah, yang terletak di dalam komplek Tsanawiyah Taiba. Di Mujamma’ ini terdapat Institut Tahfidz al-Qur’an, Institut Khat ‘Arab, Museum Pendidikan yang menyimpan gambar-gambar dan arsip-arsip mengenai Pendidikan di Madinah selama lebih dari 80 tahun
Diantara alumni Tsanawiyah Taiba, Ali Hasan asy-Sya’ir (Mantan Menteri Kebudayaan & Informatika serta Penasehat Dewan Kerajaan Arab Saudi), Dr. Ahmad Muhammad Ali (Mantan Chairman Islamic Development Bank), Muhammad Ali al-Fayez (Mantan Menteri Pelayanan Sipil Arab Saudi), Dr. Nasir Muhammad as-Salum (Mantan Menteri Perhubungan Arab Saudi), Dr. Nizar Obaid Madani (Menteri Negara Urusan Luar Negeri Arab Saudi), Dr. Iyad Amin Madani (Mantan Menteri Kebudayaan & Informatika, Mantan Menteri Haji Arab Saudi & Mantan Sekretaris Jenderal OKI), Dr. Hasyim Abdullah Yamani (Mantan Menteri Perindustrian dan Listrik Arab Saudi, Chairman King Abdullah City for Atomic & Renewable Energy), Usamah Ja’far Fakieh (Mantan Menteri Perdagangan Saudi & Mantan Badan Pemeriksaan Umum Arab Saudi), Ir. Muhammad Jamil Ahmad Mulla (Mantan Menteri Komunikasi & Teknologi Informasi Arab Saudi), Dr. Jabarah Eid Al-Suraisiry (Mantan Menteri Perhubungan Arab Saudi), Dr. Bandar Muhammad Najjar (Mantan Wakil Majelis Syura Arab Saudi, Mantan Menteri Haji Arab Saudi & Chairman Islamic Development Bank)

Ia tinggal di Istana, namun tidak lupa membangun Masjid

Masjid Hammad bin Salim al-Baluwi, atau lebih sering disebut dengan Masjid al-Balawi, adalah sebuah Masjid yang terletak di Distrik Faisaliah, Madinah, tidak jauh dari pintu gerbang selatan Universitas Islam Madinah.
Hammad bin Salim al-Baluwi adalah seorang pengusaha besar, putra-putra beliau memegang peranan penting di Arab Saudi. Salah satunya Khalid, Executive Vice President of Commerce Maskapai Saudia Airlines, putra lainnya Ahmad, yang merupakan Konsultan Manajemen di Kementerian Keuangan Arab Saudi setingkat dengan Deputi Menteri.
Meskipun Hammad tinggal di Istana, ia tidak lupa untuk membangun Masjid. Hammad wafat pada bulan Maret kemarin. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan ampunan kepada beliau, orang tua beliau dan keluarga beliau.

Istana Ibnu Sulaiman, Makkah

Istana Ibnu Sulaiman, Jarwal, Makkah
Sebuah bangunan tua bersejarah yang terletak di Jarwal, tidak jauh dari Terminal Bus Saptco Jarwal, Makkah, bangunan tersebut pernah menjadi tempat tinggal Abdullah bin Sulaiman al-Hamdan, Menteri Keuangan Pertama Arab Saudi yang menjabat pada 14 Agustus 1932-14 April 1954.
Abdullah sendiri menjadi orang pertama yang bergelar Menteri di Kerajaan Arab Saudi. Kementerian Keuangan adalah kementerian kedua yang dibentuk oleh Raja Abdul Aziz Al Saud setelah Kementerian Luar Negeri. Abdullah membeli bangunan ini dari salah satu keluarga kaya di kota Makkah.
Bangunan yang telah berusia lebih dari 80 tahun ini juga pernah menjadi Kantor Kementerian Dalam Negeri Arab Saudi. Uniknya Istana ini dirancang oleh seorang arsitek yang ummy (tidak bisa membaca dan menulis), untuk membuat rancangan ia menggunakan tongkat yang berasal dari kayu. Para pekerja bangunan seluruhnya berasal dari masyarakat Makkah, karena pada waktu itu belum ada para pekerja asing di Arab Saudi.
Beberapa kali Raja Abdul Aziz Al Saud mengunjungi istana ini, terutama acara bersama Menteri Keuangannya, istana ini juga menjadi tempat bagi Raja untuk menetapkan sejumlah keputusan negara. (Berbagai Sumber)

Kiswah Ka’bah Tidak Selalu Hitam Pekat

Alhamdulillah, saya berkesempatan mengunjungi Pabrik Pembuatan Kiswah Ka’bah 2 kali, kali pertama bersama pengajar dan pelajar di Institut Pengajaran Bahasa Arab Universitas Islam Madinah pada tahun 2013
Adapun kali kedua bersama rombongan umrah dari Pondok Pesantren @darunnajah_jakarta lebih tepatnya pada liburan musim dingin Januari 2014, dimana saya belajar menjadi penerjemah ketika salah seorang petugas menjelaskan satu persatu ruang pameran dan ruang produksi yang ada di pabrik
Kiswah, Kain yang melindungi Ka’bah dan juga berfungsi sebagai penghias Ka’bah diganti setahun sekali pada pagi hari di hari Arafah, yakni pada tanggal 9 Dzulhijjah
Menurut banyak riwayat, orang yang pertama kali memasang kiswah di Ka’bah adalah Raja Taba’ al-Himyari yang merupakan Raja Yaman, yakni pada zaman Jahiliyyah sebelum datangnya Islam
Qushay bin Kilab, salah satu leluhur Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam (kakek ke-7), merupakan salah seorang yang mengatur pemasangan kiswah setelah berhasil menyatukan kabilah-kabilah dibawah satu bendera
Ada juga, Natilah binti Janab, Istri Abdul Muththalib, ibu dari al-‘Abbas, ketika ia kehilanggan anaknya al-‘Abbas, ia bernadzar kepada Allah jika ia menemukan anaknya, maka ia akan memasang kiswah di ka’bah sendirian, kemudian anaknya ia temukan, sehingga ia menjadi perempuan pertama dalam sejarah yang memasang kiswah ka’bah sendirian
Kiswah pertama yang dibuat dari kain tenun dari Yaman berwarna merah dan berlajur-lajur
Pada zaman Khalifah Ma’mun ar-Rasyid kiswah dibuat dengan warna dasar putih
Atas perintah Khalifah An-Nashir, kiswah pernah dibuat berwarna hijau
Atas perintah Muhammad Ibnu Sabaktakin, kiswah pernah dibuat berwarna kuning
Penggantian kiswah yang berwarna-warni dari tahun ke tahun mengusik benak Khalifah al-Ma’mun hingga akhirnya diputuskan kiswah harus tetap berwarna hitam
Kiswah pernah dibuat dari bulu domba, kulit, hushr, kain merah dari Yaman, kain besar satu tenunan, sutera, kain kain Yaman, Mesir dan Irak, sutera hitam, merah, putih, kuning dan hijau
Foto: saya sedang menunjuk bekas kiswah yang ada di ruang pameran pabrik kiswah

Mengenal salah satu raja termuda di dunia

Pangeran Saud bin Abdul Aziz bin Mut’ib Al Rasyid, lahir di Ha’il pada tahun 1898, pada usia 8 tahun, ayahnya Abdul Aziz (Penguasa Ha’il ke -7) dibunuh, 1 tahun kemudian, kakaknya Mut’ib (Penguasa Ha’il ke-8) dibunuh, 2 kakaknya yang lain, Misy’al dan Muhammad juga dibunuh oleh pamannya Sultan al-Hamud ar-Rasyid yang kemudian menjadi Penguasa Ha’il ke-9.

Pangeran Saud beserta paman-pamannya yang lain pindah ke Madinah, antara lain Pangeran Hamud bin Subhan as-Subhan. 1 tahun kemudian, rakyat Ha’il mengirim surat agar Pangeran Saud kembali ke Ha’il untuk memegang pemerintahan disana
Pada tahun 1908, di usia 11 tahun, Pangeran Saud kembali ke Ha’il, menjadi Penguasa Ha’il ke 10, bertindak sebagai wali Pangeran Hamud bin Subhan as-Subhan, yang sebelumnya menjadi Plt Penguasa Ha’il. 1 tahun kemudian, pamannya wafat.
Pangeran Zamil II as-Salim al-Ali as-Subhan, suami dari Putri Fatimah binti Zamil I as-Subhan, menjadi wali Pangeran Saud setelah Pangeran Hamud wafat. Beberapa tahun kemudian, Pangeran Zamil II wafat, maka Fatimah as-Subhan, nenek dari Pangeran Saud menjadi walinya pada tahun 1910/1911 – 1904. Kemudian pada tahun 1904, Pangeran Saud menjadi Penguasa Ha’il yang resmi tanpa wali (usia 16 tahun).
Pada 17 Januari 1915, terjadi Pertempuran Jarrab antara Emirat Jabal Syamr yang dipimpin oleh Pangeran Saud dengan Emirat Najd yang dipimpin oleh Abdul Aziz bin Abdurrahman Al Saud (Pendiri Negara Saudi Modern), yang dimenangkan oleh Pangeran Saud. Al-Jauf dan sekitarnya berhasil direbut oleh Pangeran Saud dan digabungkan ke Ha’il. Pada waktu itu, Pangeran Saud baru berusia 17 tahun dan Abdul Aziz Al Saud sudah berusia 39 tahun. Pertempuran ini bisa disebut sebagai bagian dari Perang Dunia Pertama, karena Emirat Jabal Syamr berkoalisi dengan Turki Utsmani sedangkan Emirat Najd berkoalisi dengan Inggris.
Pada Maret 1920, di usia 22 tahun, setelah 10 tahun menjadi Penguasa Ha’il, Pangeran Saud dibunuh oleh sepupunya Abdullah ath-Thalal, kemudian keponakannya, Pangeran Abdullah bin Mut’ib bin Abdul Aziz Al Rasyid menggantikannya sebagai Penguasa Ha’il ke 11. Kelak di akhir tahun 1920, Pangeran Abdullah bin Mut’ib menyerah kepada Abdul Aziz Al Saud.
Istri dari Pangeran Saud, al-Fahdah binti ‘Ashi bin Syuraim yang melahirkan 1 anak, Misy’al (1913 – 1931). Jauh setelah wafatnya Pangeran Saud, al-Fahdah menikah dengan Raja Abdul Aziz Al Saud, dan memiliki anak yang bernama Abdullah, Abdullah adalah Raja Arab Saudi pada tahun 2005 – 2015.
4 istri Pangeran Saud yang lainnya; Putri Asy-Syahah al-Waj’an yang melahirkan 1 anak, Pangeran Muhammad (1914 – 1973), Pangeran Muhammad memiliki 4 anak: Saud, Abdullah, Bandar dan Mut’ib
Istri lainnya; Putri Lu’lu’ah ash-Shalih Al Subhan yang melahirkan Pangeran Abdul Aziz (1915 – 1960), ayah dari Pangeran Thalal ar-Rasyid (wafat dibunuh di Aljazair pada tahun 2003)
Istri lainnya; Putri al-‘Anud as-Salim al-Hamud ar-Rasyid melahirkan Pangeran Saud (1920 – 1993), diberinama Saud karena lahir setelah ayahnya wafat. Pangeran Saud memiliki 2 anak, Nizar dan Muhannad.
Istri terakhir; Jauza at-Timyath, tidak memiliki anak.
Foto: Pangeran Saud sekitar umur 8 – 10 tahun di Madinah (sumber: akun twitter @saeedmadani3)
Beberapa hikmah dari sejarah diatas:

1. Politik itu kejam

2. Yang muda bisa mengalahkan yang tua

3. Pangeran di Arab jumlahnya banyak sekali, karena awalnya terdapat banyak emirat kecil, kerajaan kecil, kesultanan kecil, dan sebagainya
Wallahu A’lam

Kumpulan Foto Masjid, Istana, Benteng dan Situs Bersejarah

Masjidil Haram, Makkah al-Mukarramah, Saudi Arabia

Masjid Nabawi, al-Madinah al-Munawwarah, Saudi Arabia


King Hussein Mosque, Amman, Jordan


Al-Azhar Al-Sharif Mosque, Cairo, Egypt


Jame Asr Hassanil Bolkiah Mosque, Kiarong, Brunei Darussalam


Masjid Agung Al-Barkah, Bekasi, Jawa Barat, Indonesia


National Museum of Saudi Arabia


Al-Balad Jeddah UNESCO World Heritage Site, Saudi Arabia


Al-Hijr Madain Saleh UNESCO World Heritage Site


Al-Khazneh, Petra UNESCO World Heritage Site


Al-Deir, Petra UNESCO World Heritage Site


Aljoun Castle, Ajloun, Jordan


Umayyad Palace, Amman Citadel, Amman, Jordan


Umm Qais, Jordan


Abdullah bin Abbas Mosque, Taif, Saudi Arabia