Kereta Pertama dan Kereta Terakhir

23 Agustus 1908 menjadi tanggal yang ditunggu-tunggu, di hari itu Kereta Pertama Jalur Kereta Api Hijaz yang berangkat dari Stasiun Damaskus sampai di Stasiun Madinah. Perjalanan ini memotong waktu yang sebelumnya membutuhkan waktu 40 hari dengan unta, cukup 5 hari dengan kereta. Jika melaju tanpa henti kereta hanya membutuhkan waktu 72 jam perjalanan, namun kereta harus berhenti di stasiun-stasiun serta berhenti jika ada pergantian kereta

Pembangunan Jalur Kereta Api Hijaz oleh Pemerintah Turki Utsmani menghabiskan waktu 8 tahun (1900-1908), dimana Turki Utsmani menggelontorkan dana 3,5 Juta Lira Utsmani, yang tidak cukup membangun jalur sepanjang 1320 km. Akhirnya Penduduk Turki Utsmani dan Masyarakat Muslim dari negara-negara Islam lainnya urunan dana (crowdfunding) demi tercapainya pembangunan proyek besar ini
Pada tahun 1912, kereta mengangkut 30.000 jamaah haji asal Syam, Turki dan sekitarnya. Dan pada tahun 1914, terjadi kenaikan 10 kali lipat dimana kereta dapat mengangkut 300.000 jamaah haji. Kereta api Hijaz juga berdampak terhadap berkembangnya perdagangan, perekonomian dan pertanian di daerah sekitar, antara lain Haifa yang menjadi pelabuhan dan kota perdagangan penting
Perang Dunia I menyebabkan kereta tidak beroperasi sementara, Pada Perang tersebut Turki Utsmani berkoalisi dengan Blok Sentral (Jerman, Astro-Hongaria dan Italia), sedangkan Blok Sekutu diantaranya Inggris berkoalisi dengan kabilah-kabilah Arab. Agen Inggris Lawrence of Arabia mensabotase jalur ini, karena jalur ini membawa logistik militer Turki Utsmani. Hingga akhirnya pada 25 Februari 1918, kereta dengan nomor perjalanan ”105 S H” dan masinis Mahbub Ali al-Husaini al-Madani sampai di Stasiun Madinah, kereta tersebut menjadi kereta terakhir yang melewati jalur ini. (Foto di Stasiun Madinah, ujung dari Jalur Kereta Api Hijaz yang saat ini dialihfungsikan menjadi Museum Madinah)

Iklan

Sekolah Para Menteri

Tsanawiyah Taiba adalah SMA pertama yang berdiri di kota Madinah pada 13 November 1943, dan SMA yang berdiri kedua di Arab Saudi setelah Madrasah Tahdhir al-Bi’tsat (مدرسة تحضير البعثات) di kota Makkah yang berdiri pada 28 September 1936. Pada awalnya Tsanawiyah Taiba hanya ditempatkan di sebuah rumah kecil, dengan harga sewa 60 riyal untuk 3 bulan, 1 Kepala Sekolah dan 5 Guru, dengan Angkatan Pertama 16 murid kelas 1 SMA, dan 19 murid kelas 2 SMA termasuk Sulaiman Fakieh (Dokter, Pengusaha & Pendiri Rumah Sakit dr. Sulaiman Fakieh di Jeddah) dan Ali Hasan asy-Sya’ir (Mantan Menteri Kebudayaan & Informatika Arab Saudi)
Pada 16 Mei 2013, dalam rangkaian kegiatan “Madinah Ibu kota Kebudayaan Islam 2013”, Gubernur Madinah YM Pangeran Faisal bin Salman bin Abdul Aziz Al Saud meresmikan Mujamma’ Darul Qalam dan Museum Pendidikan Madinah, yang terletak di dalam komplek Tsanawiyah Taiba. Di Mujamma’ ini terdapat Institut Tahfidz al-Qur’an, Institut Khat ‘Arab, Museum Pendidikan yang menyimpan gambar-gambar dan arsip-arsip mengenai Pendidikan di Madinah selama lebih dari 80 tahun
Diantara alumni Tsanawiyah Taiba, Ali Hasan asy-Sya’ir (Mantan Menteri Kebudayaan & Informatika serta Penasehat Dewan Kerajaan Arab Saudi), Dr. Ahmad Muhammad Ali (Mantan Chairman Islamic Development Bank), Muhammad Ali al-Fayez (Mantan Menteri Pelayanan Sipil Arab Saudi), Dr. Nasir Muhammad as-Salum (Mantan Menteri Perhubungan Arab Saudi), Dr. Nizar Obaid Madani (Menteri Negara Urusan Luar Negeri Arab Saudi), Dr. Iyad Amin Madani (Mantan Menteri Kebudayaan & Informatika, Mantan Menteri Haji Arab Saudi & Mantan Sekretaris Jenderal OKI), Dr. Hasyim Abdullah Yamani (Mantan Menteri Perindustrian dan Listrik Arab Saudi, Chairman King Abdullah City for Atomic & Renewable Energy), Usamah Ja’far Fakieh (Mantan Menteri Perdagangan Saudi & Mantan Badan Pemeriksaan Umum Arab Saudi), Ir. Muhammad Jamil Ahmad Mulla (Mantan Menteri Komunikasi & Teknologi Informasi Arab Saudi), Dr. Jabarah Eid Al-Suraisiry (Mantan Menteri Perhubungan Arab Saudi), Dr. Bandar Muhammad Najjar (Mantan Wakil Majelis Syura Arab Saudi, Mantan Menteri Haji Arab Saudi & Chairman Islamic Development Bank)

Ia tinggal di Istana, namun tidak lupa membangun Masjid

Masjid Hammad bin Salim al-Baluwi, atau lebih sering disebut dengan Masjid al-Balawi, adalah sebuah Masjid yang terletak di Distrik Faisaliah, Madinah, tidak jauh dari pintu gerbang selatan Universitas Islam Madinah.
Hammad bin Salim al-Baluwi adalah seorang pengusaha besar, putra-putra beliau memegang peranan penting di Arab Saudi. Salah satunya Khalid, Executive Vice President of Commerce Maskapai Saudia Airlines, putra lainnya Ahmad, yang merupakan Konsultan Manajemen di Kementerian Keuangan Arab Saudi setingkat dengan Deputi Menteri.
Meskipun Hammad tinggal di Istana, ia tidak lupa untuk membangun Masjid. Hammad wafat pada bulan Maret kemarin. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan ampunan kepada beliau, orang tua beliau dan keluarga beliau.

Istana Ibnu Sulaiman, Makkah

Istana Ibnu Sulaiman, Jarwal, Makkah
Sebuah bangunan tua bersejarah yang terletak di Jarwal, tidak jauh dari Terminal Bus Saptco Jarwal, Makkah, bangunan tersebut pernah menjadi tempat tinggal Abdullah bin Sulaiman al-Hamdan, Menteri Keuangan Pertama Arab Saudi yang menjabat pada 14 Agustus 1932-14 April 1954.
Abdullah sendiri menjadi orang pertama yang bergelar Menteri di Kerajaan Arab Saudi. Kementerian Keuangan adalah kementerian kedua yang dibentuk oleh Raja Abdul Aziz Al Saud setelah Kementerian Luar Negeri. Abdullah membeli bangunan ini dari salah satu keluarga kaya di kota Makkah.
Bangunan yang telah berusia lebih dari 80 tahun ini juga pernah menjadi Kantor Kementerian Dalam Negeri Arab Saudi. Uniknya Istana ini dirancang oleh seorang arsitek yang ummy (tidak bisa membaca dan menulis), untuk membuat rancangan ia menggunakan tongkat yang berasal dari kayu. Para pekerja bangunan seluruhnya berasal dari masyarakat Makkah, karena pada waktu itu belum ada para pekerja asing di Arab Saudi.
Beberapa kali Raja Abdul Aziz Al Saud mengunjungi istana ini, terutama acara bersama Menteri Keuangannya, istana ini juga menjadi tempat bagi Raja untuk menetapkan sejumlah keputusan negara. (Berbagai Sumber)

Kiswah Ka’bah Tidak Selalu Hitam Pekat

Alhamdulillah, saya berkesempatan mengunjungi Pabrik Pembuatan Kiswah Ka’bah 2 kali, kali pertama bersama pengajar dan pelajar di Institut Pengajaran Bahasa Arab Universitas Islam Madinah pada tahun 2013
Adapun kali kedua bersama rombongan umrah dari Pondok Pesantren @darunnajah_jakarta lebih tepatnya pada liburan musim dingin Januari 2014, dimana saya belajar menjadi penerjemah ketika salah seorang petugas menjelaskan satu persatu ruang pameran dan ruang produksi yang ada di pabrik
Kiswah, Kain yang melindungi Ka’bah dan juga berfungsi sebagai penghias Ka’bah diganti setahun sekali pada pagi hari di hari Arafah, yakni pada tanggal 9 Dzulhijjah
Menurut banyak riwayat, orang yang pertama kali memasang kiswah di Ka’bah adalah Raja Taba’ al-Himyari yang merupakan Raja Yaman, yakni pada zaman Jahiliyyah sebelum datangnya Islam
Qushay bin Kilab, salah satu leluhur Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam (kakek ke-7), merupakan salah seorang yang mengatur pemasangan kiswah setelah berhasil menyatukan kabilah-kabilah dibawah satu bendera
Ada juga, Natilah binti Janab, Istri Abdul Muththalib, ibu dari al-‘Abbas, ketika ia kehilanggan anaknya al-‘Abbas, ia bernadzar kepada Allah jika ia menemukan anaknya, maka ia akan memasang kiswah di ka’bah sendirian, kemudian anaknya ia temukan, sehingga ia menjadi perempuan pertama dalam sejarah yang memasang kiswah ka’bah sendirian
Kiswah pertama yang dibuat dari kain tenun dari Yaman berwarna merah dan berlajur-lajur
Pada zaman Khalifah Ma’mun ar-Rasyid kiswah dibuat dengan warna dasar putih
Atas perintah Khalifah An-Nashir, kiswah pernah dibuat berwarna hijau
Atas perintah Muhammad Ibnu Sabaktakin, kiswah pernah dibuat berwarna kuning
Penggantian kiswah yang berwarna-warni dari tahun ke tahun mengusik benak Khalifah al-Ma’mun hingga akhirnya diputuskan kiswah harus tetap berwarna hitam
Kiswah pernah dibuat dari bulu domba, kulit, hushr, kain merah dari Yaman, kain besar satu tenunan, sutera, kain kain Yaman, Mesir dan Irak, sutera hitam, merah, putih, kuning dan hijau
Foto: saya sedang menunjuk bekas kiswah yang ada di ruang pameran pabrik kiswah

Mengenal salah satu raja termuda di dunia

Pangeran Saud bin Abdul Aziz bin Mut’ib Al Rasyid, lahir di Ha’il pada tahun 1898, pada usia 8 tahun, ayahnya Abdul Aziz (Penguasa Ha’il ke -7) dibunuh, 1 tahun kemudian, kakaknya Mut’ib (Penguasa Ha’il ke-8) dibunuh, 2 kakaknya yang lain, Misy’al dan Muhammad juga dibunuh oleh pamannya Sultan al-Hamud ar-Rasyid yang kemudian menjadi Penguasa Ha’il ke-9.

Pangeran Saud beserta paman-pamannya yang lain pindah ke Madinah, antara lain Pangeran Hamud bin Subhan as-Subhan. 1 tahun kemudian, rakyat Ha’il mengirim surat agar Pangeran Saud kembali ke Ha’il untuk memegang pemerintahan disana
Pada tahun 1908, di usia 11 tahun, Pangeran Saud kembali ke Ha’il, menjadi Penguasa Ha’il ke 10, bertindak sebagai wali Pangeran Hamud bin Subhan as-Subhan, yang sebelumnya menjadi Plt Penguasa Ha’il. 1 tahun kemudian, pamannya wafat.
Pangeran Zamil II as-Salim al-Ali as-Subhan, suami dari Putri Fatimah binti Zamil I as-Subhan, menjadi wali Pangeran Saud setelah Pangeran Hamud wafat. Beberapa tahun kemudian, Pangeran Zamil II wafat, maka Fatimah as-Subhan, nenek dari Pangeran Saud menjadi walinya pada tahun 1910/1911 – 1904. Kemudian pada tahun 1904, Pangeran Saud menjadi Penguasa Ha’il yang resmi tanpa wali (usia 16 tahun).
Pada 17 Januari 1915, terjadi Pertempuran Jarrab antara Emirat Jabal Syamr yang dipimpin oleh Pangeran Saud dengan Emirat Najd yang dipimpin oleh Abdul Aziz bin Abdurrahman Al Saud (Pendiri Negara Saudi Modern), yang dimenangkan oleh Pangeran Saud. Al-Jauf dan sekitarnya berhasil direbut oleh Pangeran Saud dan digabungkan ke Ha’il. Pada waktu itu, Pangeran Saud baru berusia 17 tahun dan Abdul Aziz Al Saud sudah berusia 39 tahun. Pertempuran ini bisa disebut sebagai bagian dari Perang Dunia Pertama, karena Emirat Jabal Syamr berkoalisi dengan Turki Utsmani sedangkan Emirat Najd berkoalisi dengan Inggris.
Pada Maret 1920, di usia 22 tahun, setelah 10 tahun menjadi Penguasa Ha’il, Pangeran Saud dibunuh oleh sepupunya Abdullah ath-Thalal, kemudian keponakannya, Pangeran Abdullah bin Mut’ib bin Abdul Aziz Al Rasyid menggantikannya sebagai Penguasa Ha’il ke 11. Kelak di akhir tahun 1920, Pangeran Abdullah bin Mut’ib menyerah kepada Abdul Aziz Al Saud.
Istri dari Pangeran Saud, al-Fahdah binti ‘Ashi bin Syuraim yang melahirkan 1 anak, Misy’al (1913 – 1931). Jauh setelah wafatnya Pangeran Saud, al-Fahdah menikah dengan Raja Abdul Aziz Al Saud, dan memiliki anak yang bernama Abdullah, Abdullah adalah Raja Arab Saudi pada tahun 2005 – 2015.
4 istri Pangeran Saud yang lainnya; Putri Asy-Syahah al-Waj’an yang melahirkan 1 anak, Pangeran Muhammad (1914 – 1973), Pangeran Muhammad memiliki 4 anak: Saud, Abdullah, Bandar dan Mut’ib
Istri lainnya; Putri Lu’lu’ah ash-Shalih Al Subhan yang melahirkan Pangeran Abdul Aziz (1915 – 1960), ayah dari Pangeran Thalal ar-Rasyid (wafat dibunuh di Aljazair pada tahun 2003)
Istri lainnya; Putri al-‘Anud as-Salim al-Hamud ar-Rasyid melahirkan Pangeran Saud (1920 – 1993), diberinama Saud karena lahir setelah ayahnya wafat. Pangeran Saud memiliki 2 anak, Nizar dan Muhannad.
Istri terakhir; Jauza at-Timyath, tidak memiliki anak.
Foto: Pangeran Saud sekitar umur 8 – 10 tahun di Madinah (sumber: akun twitter @saeedmadani3)
Beberapa hikmah dari sejarah diatas:

1. Politik itu kejam

2. Yang muda bisa mengalahkan yang tua

3. Pangeran di Arab jumlahnya banyak sekali, karena awalnya terdapat banyak emirat kecil, kerajaan kecil, kesultanan kecil, dan sebagainya
Wallahu A’lam

Kumpulan Foto Masjid, Istana, Benteng dan Situs Bersejarah

Masjidil Haram, Makkah al-Mukarramah, Saudi Arabia

Masjid Nabawi, al-Madinah al-Munawwarah, Saudi Arabia


King Hussein Mosque, Amman, Jordan


Al-Azhar Al-Sharif Mosque, Cairo, Egypt


Jame Asr Hassanil Bolkiah Mosque, Kiarong, Brunei Darussalam


Masjid Agung Al-Barkah, Bekasi, Jawa Barat, Indonesia


National Museum of Saudi Arabia


Al-Balad Jeddah UNESCO World Heritage Site, Saudi Arabia


Al-Hijr Madain Saleh UNESCO World Heritage Site


Al-Khazneh, Petra UNESCO World Heritage Site


Al-Deir, Petra UNESCO World Heritage Site


Aljoun Castle, Ajloun, Jordan


Umayyad Palace, Amman Citadel, Amman, Jordan


Umm Qais, Jordan


Abdullah bin Abbas Mosque, Taif, Saudi Arabia

Thee Ain Ancient Village, Al-Bahah, Arab Saudi

Thi Ain Ancient Village (Qoryah Dzi ‘Ain al-Atsariyyah)
Desa Dzi ‘Ain adalah sebuah perkampungan kuno yang terletak 20 km dari Al-Makhwah, dan 24 km dari kota Al-Bahah, Provinsi Al-Bahah Arab Saudi. Desa ini berumur lebih dari 400 tahun dan dibangun diatas sebuah gunung yang disebut dengan nama gunung putih.
Desa ini disebut dengan nama “Dzi ‘Ain” atau yang berarti “yang memiliki mata air” karena di gunung yang terletak di sebelah desa ini terdapat sebuah mata air yang mengalir sepanjang tahun. Desa ini bercuaca panas pada musim panas dan sedang pada musim dingin serta terletak pada ketinggin 1985 mdpl.
Desa terdiri dari 49 rumah, 9 rumah dengan 1 lantai, 19 rumah dengan 2 lantai, 11 rumah dengan 3 lantai, 10 rumah dengan 4 lantai. Desa ini dibangun dikelilingi tembok, degan lebar tembok antara 70 sampai 90 cm. 

Atap bangunan menggunakan kayu dari pohon Ziziphus spina-christi, adapun ruangan besar atapnya menggunakan tiang-tiang. Lantai dasar biasanya digunakan untuk ruang tamu dan untuk duduk (seperti ruang keluarga) dan lantai dua digunakan untuk tempat tidur. Selain rumah di desa ini juga terdapat Masjid.
Sebelum berdirinya Kerajaan Arab Saudi, desa ini telah menjadi saksi bisu pertempuran antar kabilah yang terjadi disini. Salah satu pertempuran penting adalah antara tentara Muhammad Ali Pasha (Turki Utsmani) dengan tentara dari kabilah Al-Zahrani dan Al-Ghamidi, yang berakhir dengan kekalahan tentara Muhammad Ali Pasha. Kuburan tentara Muhammad Ali Pasha yang ada dekat sini dikenal dengan sebutan “Qubur al-Atrak” atau “Kuburan orang-orang Turki”.
Pada tahun 2015, desa ini menjadi salah satu dari 10 situs yang didaftarkan oleh Pemerintah Arab Saudi kepada UNESCO untuk menjadi Situs Warisan Dunia di tahun-tahun yang akan datang. #theeain #thiain #saudi #saudiarabia .

Photo Credit: @muh.sobri

Bait Al-Katib di Taif, Arab Saudi

“Bait al-Katib” atau “Qashr an-Niyabah” adalah sebuah bangunan yang terletak di kota Taif, Arab Saudi dan dibangun pada tahun 1315 H. Pembangunan membutuhkan waktu 3 tahun, dengan bahan bangunan terdiri dari batu, mortar dan kayu.
Bangunan ini pada awalnya merupakan milik Muhammad Ali Abdul Wahid, Sekretaris Khusus Syarif ‘Aunurrafiq, Amir Hijaz dan Syarif Makkah (1882-1905) dibawah Turki Utsmani, oleh karena itu Istana ini disebut “Bait al-Katib” yang berarti “Rumah Sekretaris”
Raja Faisal bin Abdul Aziz menyewa bangunan ini dari anak-anak Muhammad Ali Abdul Wahid, sehingga bangunan ini disebut “Qashr an-Niyabah” yang berarti Istana Wakil, karena Raja Faisal pada waktu itu merupakan Wakil Raja dari Raja Abdul Aziz Al Saud. Tempat ini menjadi tempat tinggal Raja Faisal dan anak-anaknya Abdullah, Muhammad, Saad, Saud (Mantan Menlu Saudi 1975-2015), Khalid (Gubernur Makkah), Turki dan Sarah. Pangeran Saud lahir disini pada 1358 Hijriyah.
Pada setiap musim panas, dahulu Pemerintah Arab Saudi juga memindahkan pusat pemerintahan ke kota Taif, karena kota Taif yang terletak di pegunungan sehingga lebih sejuk dibandingkan dengan kota-kota lainnya di Arab Saudi.
Bangunan terdiri dari 4 sisi, 3 lantai, dengan arsitektur campuran Romawi kuno, Islam dan Hijaz, dekorasi berbentuk spiral sampai ke atap, jendela-jendela berbahan kayu, dengan jumlah kamar 45 buah berhiaskan marmer, 8 kamar mandi, 5 dapur, 4 atap kecil berbentuk kotak dan diatasnya terdapat atap besar. Pada waktu itu, bangunan ini dikelilingi taman-taman dan tanah pertanian, serta terdapat sumur sebagai sumber air bagi tanaman yang ada di sekitar bangunan.
Pada tahun 2014, Raja Salman bin Abdul Aziz (saat itu masih menjadi Pangeran Mahkota) dan Yayasan Raja Abdul Aziz memilih Istana ini untuk menjadi Pusat Sejarah Taif setelah bangunan ini direnovasi. #taif #saudi #saudiarabia .

Photo Credit: @muh.sobri

Napak Tilas Masjid dan Sumur Rauha’

Rauha’ merupakan sebuah tempat berupa lembah yang berjarak kurang lebih 80 KM dari Madinah Munawarah, tepat di sebelah kanan jalan Madinah-Yanbu’ bila kita berangkat dari Madinah, Rauha’ adalah salah satu diantara wilayah yang masuk jalur lama Makkah-Madinah di mana menjadi jalan utama para pedagang dan jamaah umroh maupun haji dari dan menuju makkah, Selain menjadi jalur perjalanan rauha’ juga menjadi tempat persinggahan dan peristirahatan sementara para musafir yang melewatinya karena di tempat ini terdapat sebuah sumur yang bisa diambil airnya sebagai bekal perjalanan.

Masjid Rauha


Sumur Rauha


maka tak heran bila wilayah ini sangat bersejarah dan bahkan banyak disebut dalam hadist maupun siroh nabawi, berikut diantaranya :
1. RAUHA’ TEMPAT SINGGAH DAN SHALAT RASULULLAH ﷺ SAAT MENUJU MEKKAH
عن نافع أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ حَدَّثَهُ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ صَلَّى حَيْثُ الْمَسْجِدُ الصَّغِيرُ الَّذِي دُونَ الْمَسْجِدِ الَّذِي بِشَرَفِ الرَّوْحَاءِ وَقَدْ كَانَ عَبْدُ اللَّهِ يَعْلَمُ الْمَكَانَ الَّذِي كَانَ صَلَّى فِيهِ النَّبِيُّ ﷺ يَقُولُ ثَمَّ عَنْ يَمِينِكَ حِينَ تَقُومُ فِي الْمَسْجِدِ تُصَلِّي وَذَلِكَ الْمَسْجِدُ عَلَى حَافَةِ الطَّرِيقِ الْيُمْنَى وَأَنْتَ ذَاهِبٌ إِلَى مَكَّةَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْمَسْجِدِ الْأَكْبَرِ رَمْيَةٌ بِحَجَرٍ أَوْ نَحْوُ ذَلِكَ (رواه البخاري)
Dari Nafi bahwa Abdullah bin ‘Umar menceritakan bahwasanya Nabi ﷺ pernah melaksanakan shalat di masjid kecil, bukan masjid yang terdapat di Syarful Rauha’. ‘Abdullah mengetahui tempat yang pernah digunakan oleh Nabi ﷺ untuk shalat. Ia berkata, Disana, di sebelah kanan jika kamu berdiri shalat di masjid itu. Masjid itu terletak di sebelah kanan jalan jika kamu berjalan menuju ke arah Makkah. Jarak masjid tersebut dengan masjid besar sejauh lemparan batu atau kurang lebihnya sekitar itu (HR. Bukhori)
Kebiasaan ini lantas diikuti pula oleh sahabat Abdullah bin Umar serta anaknya Salim bin Abdullah sebagaimana diriwayatkan pula oleh Imam Bukhari
حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ عُقْبَةَ ، قَالَ : رَأَيْتُ  سَالِمَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ  يَتَحَرَّى أَمَاكِنَ مِنَ الطَّرِيقِ فَيُصَلِّي فِيهَا، وَيُحَدِّثُ أَنَّ أَبَاهُ  كَانَ يُصَلِّي  فِيهَا، وَأَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ ﷺ يُصَلِّي فِي تِلْكَ الْأَمْكِنَةِ
Dari Musa bin Uqbah berkata :”Aku pernah melihat Salim bin Abdillah, ia sedang mencari tempat-tempat di tepi jalan, kemudian dia sholat di tempat-tempat tersebut. Salim menceritakan ; bahwa ayahnya (Abdulloh Ibn Umar) pernah sholat di tempat-tempat tersebut, dan beliau pernah melihat Nabi ﷺ sholat di tempat-tempat tersebut”. (HR. Al Bukhori)
2. TEMPAT WALIMAH RASULULLAH ﷺ DENGAN UMMUL MUKMININ SHOFIYYAH BIN HUYAY
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ

قَدِمَ النَّبِيُّ ﷺ خَيْبَرَ فَلَمَّا فَتَحَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْحِصْنَ ذُكِرَ لَهُ جَمَالُ صَفِيَّةَ بِنْتِ حُيَيِّ بْنِ أَخْطَبَ وَقَدْ قُتِلَ زَوْجُهَا وَكَانَتْ عَرُوسًا فَاصْطَفَاهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِنَفْسِهِ فَخَرَجَ بِهَا حَتَّى بَلَغْنَا سَدَّ الرَّوْحَاءِ حَلَّتْ فَبَنَى بِهَا ثُمَّ صَنَعَ حَيْسًا فِي نِطَعٍ صَغِيرٍ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ آذِنْ مَنْ حَوْلَكَ فَكَانَتْ تِلْكَ وَلِيمَةَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ عَلَى صَفِيَّةَ ثُمَّ خَرَجْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ (رواه البخاري)
Dari Anas bin Malik berkata; Nabi ﷺ memasuki Khaibar. Tatkala Allah memberi kemenangan pada Nabi ﷺ atas benteng Khaibar, diceritakan kepada Beliau tentang kecantikan Shafiyah binti Huyyay bin Akhthob yang suaminya terbunuh sedangkan dia baru saja menjadi pengantin. Maka Rasulullah ﷺ memilihnya untuk diri Beliau (untuk dinikahi). 
Kemudian Beliau keluar bersama Shafiyah hingga ketika kami sudah sampai di Saddar Rauhaa’, beliau berhenti untuk singgah maka dibuatkanlah baginya makanan yang terbuat dari kurma, tepung dan minyak samin dalam wadah kecil terbuat dari kulit. 
Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda: “Persilakanlah orang-orang yang ada di sekitarmu!” Itulah walimah Rasulullah ﷺ dengan Shafiyah. Kemudian kami berangkat menuju Madinah.
3. TEMPAT NABI ISA ALAIHISSALAM MEMULAI TALBIAH HAJI/UMRAH DI AKHIR ZAMAN KELAK
عَنْ حَنْظَلَةَ الْأَسْلَمِيِّ قَالَ : سَمِعْتُ  أَبَا هُرَيْرَةَ  رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يُحَدِّثُ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ “وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَيُهِلَّنَّ ابْنُ مَرْيَمَ بِفَجِّ الرَّوْحَاءِ، حَاجًّا أَوْ مُعْتَمِرًا، أَوْ لَيَثْنِيَنَّهُمَا”.
Dari Handzalah Al Aslami bahwa Abu Hurairah berkata dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau berkata “Demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguhnya Ibnu Maryam memulai Tahlil (talbiah) di Fajjur Rauhaa’ untuk haji atau umrah, atau melakukan keduanya (Yakni menggabungkan haji dan umrah)” (HR. Muslim)
4. TEMPAT SINGGAH DAN SHALAT 70 NABI SEBELUM NABI MUHAMMAD ﷺ
Disebutkan oleh Imam Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Fathul Bari’ :
وفي الترمذي من حديث عمرو بن عوف {أن النبي صلى الله عليه وسلم صلى في وادي الروحاء وقال ” لقد صلى في هذا المسجد سبعون نبيا “}
Dalam riwayat At Tirmidzi dari Hadist Amr bin Auf bahwa Rasulullah ﷺ ketika di lembah Rauha’ beliau berkata “Telah Sholat di Masjid ini 70 Nabi”.
5. SATU DIANTARA LEMBAH-LEMBAH SURGA
عن عمرو بن عوف المزني -رضي الله عنه- أنه قال : قال رسول الله للروحاء: “هذه سجاسج وادٍ من أودية الجنة، لقد صلى في هذا المسجد قبلي سبعون نبيا، ولقد مر به موسى -عليه السلام- عليه عباءتان قطوانيتان على ناقة ورقاء في سبعين ألفا من بني إسرائيل حاجين البيت العتيق، ولا تقوم الساعة حتى يمر به عيسى بن مريم عبد الله ورسوله؛ حاجا أو معتمرا أو يجمع الله له ذلك». رواه الإمام الطبراني في معجمه الكبير وحسنه الترمذي
Dari Amr bin Auf Al muzani bahwa Rasulullah ﷺ bersabda mengenai Rauha’ :”Dataran lembah ini adalah satu dari lembah-lembah surga dan telah Shalat di masjidnya 70 Nabi sebelum aku, dan telah lewat di Rauha’ pula Musa Alaihissalam dengan mengenakan dua jubah tebal di atas unta putih bersama dengannya 70 ribu bani israil untuk haji ke bait atiq (Ka’bah) dan tidak akan terjadi kiamat sampai Isa bin Maryam melewati tempat ini untuk haji atau umroh (HR. At Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir dan dihasankan oleh At Tirmidzi)
6. TEMPAT ALLAH MENURUKAN TIMBA BERISI AIR DARI SURGA UNTUK MINUM SHAHABIYAH UMMU AIMAN
Hal ini disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam Bidayah Wa Nihayah Juz 6 Hal. 214
Terakhir mengenai keotentikan lokasi masjid ini maka Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Fathul Bari’ saat mensyarah hadist ysng telah disebutkan di atas berkata “Dan Masjid-Masjid di Rauha’ diketahui lokasinya oleh penduduk di daerah itu”, Wallahualam.
(Oleh : Muhammad Salim Kholili)