Kiswah Ka’bah Tidak Selalu Hitam Pekat

Alhamdulillah, saya berkesempatan mengunjungi Pabrik Pembuatan Kiswah Ka’bah 2 kali, kali pertama bersama pengajar dan pelajar di Institut Pengajaran Bahasa Arab Universitas Islam Madinah pada tahun 2013
Adapun kali kedua bersama rombongan umrah dari Pondok Pesantren @darunnajah_jakarta lebih tepatnya pada liburan musim dingin Januari 2014, dimana saya belajar menjadi penerjemah ketika salah seorang petugas menjelaskan satu persatu ruang pameran dan ruang produksi yang ada di pabrik
Kiswah, Kain yang melindungi Ka’bah dan juga berfungsi sebagai penghias Ka’bah diganti setahun sekali pada pagi hari di hari Arafah, yakni pada tanggal 9 Dzulhijjah
Menurut banyak riwayat, orang yang pertama kali memasang kiswah di Ka’bah adalah Raja Taba’ al-Himyari yang merupakan Raja Yaman, yakni pada zaman Jahiliyyah sebelum datangnya Islam
Qushay bin Kilab, salah satu leluhur Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam (kakek ke-7), merupakan salah seorang yang mengatur pemasangan kiswah setelah berhasil menyatukan kabilah-kabilah dibawah satu bendera
Ada juga, Natilah binti Janab, Istri Abdul Muththalib, ibu dari al-‘Abbas, ketika ia kehilanggan anaknya al-‘Abbas, ia bernadzar kepada Allah jika ia menemukan anaknya, maka ia akan memasang kiswah di ka’bah sendirian, kemudian anaknya ia temukan, sehingga ia menjadi perempuan pertama dalam sejarah yang memasang kiswah ka’bah sendirian
Kiswah pertama yang dibuat dari kain tenun dari Yaman berwarna merah dan berlajur-lajur
Pada zaman Khalifah Ma’mun ar-Rasyid kiswah dibuat dengan warna dasar putih
Atas perintah Khalifah An-Nashir, kiswah pernah dibuat berwarna hijau
Atas perintah Muhammad Ibnu Sabaktakin, kiswah pernah dibuat berwarna kuning
Penggantian kiswah yang berwarna-warni dari tahun ke tahun mengusik benak Khalifah al-Ma’mun hingga akhirnya diputuskan kiswah harus tetap berwarna hitam
Kiswah pernah dibuat dari bulu domba, kulit, hushr, kain merah dari Yaman, kain besar satu tenunan, sutera, kain kain Yaman, Mesir dan Irak, sutera hitam, merah, putih, kuning dan hijau
Foto: saya sedang menunjuk bekas kiswah yang ada di ruang pameran pabrik kiswah

Mengenal salah satu raja termuda di dunia

Pangeran Saud bin Abdul Aziz bin Mut’ib Al Rasyid, lahir di Ha’il pada tahun 1898, pada usia 8 tahun, ayahnya Abdul Aziz (Penguasa Ha’il ke -7) dibunuh, 1 tahun kemudian, kakaknya Mut’ib (Penguasa Ha’il ke-8) dibunuh, 2 kakaknya yang lain, Misy’al dan Muhammad juga dibunuh oleh pamannya Sultan al-Hamud ar-Rasyid yang kemudian menjadi Penguasa Ha’il ke-9.

Pangeran Saud beserta paman-pamannya yang lain pindah ke Madinah, antara lain Pangeran Hamud bin Subhan as-Subhan. 1 tahun kemudian, rakyat Ha’il mengirim surat agar Pangeran Saud kembali ke Ha’il untuk memegang pemerintahan disana
Pada tahun 1908, di usia 11 tahun, Pangeran Saud kembali ke Ha’il, menjadi Penguasa Ha’il ke 10, bertindak sebagai wali Pangeran Hamud bin Subhan as-Subhan, yang sebelumnya menjadi Plt Penguasa Ha’il. 1 tahun kemudian, pamannya wafat.
Pangeran Zamil II as-Salim al-Ali as-Subhan, suami dari Putri Fatimah binti Zamil I as-Subhan, menjadi wali Pangeran Saud setelah Pangeran Hamud wafat. Beberapa tahun kemudian, Pangeran Zamil II wafat, maka Fatimah as-Subhan, nenek dari Pangeran Saud menjadi walinya pada tahun 1910/1911 – 1904. Kemudian pada tahun 1904, Pangeran Saud menjadi Penguasa Ha’il yang resmi tanpa wali (usia 16 tahun).
Pada 17 Januari 1915, terjadi Pertempuran Jarrab antara Emirat Jabal Syamr yang dipimpin oleh Pangeran Saud dengan Emirat Najd yang dipimpin oleh Abdul Aziz bin Abdurrahman Al Saud (Pendiri Negara Saudi Modern), yang dimenangkan oleh Pangeran Saud. Al-Jauf dan sekitarnya berhasil direbut oleh Pangeran Saud dan digabungkan ke Ha’il. Pada waktu itu, Pangeran Saud baru berusia 17 tahun dan Abdul Aziz Al Saud sudah berusia 39 tahun. Pertempuran ini bisa disebut sebagai bagian dari Perang Dunia Pertama, karena Emirat Jabal Syamr berkoalisi dengan Turki Utsmani sedangkan Emirat Najd berkoalisi dengan Inggris.
Pada Maret 1920, di usia 22 tahun, setelah 10 tahun menjadi Penguasa Ha’il, Pangeran Saud dibunuh oleh sepupunya Abdullah ath-Thalal, kemudian keponakannya, Pangeran Abdullah bin Mut’ib bin Abdul Aziz Al Rasyid menggantikannya sebagai Penguasa Ha’il ke 11. Kelak di akhir tahun 1920, Pangeran Abdullah bin Mut’ib menyerah kepada Abdul Aziz Al Saud.
Istri dari Pangeran Saud, al-Fahdah binti ‘Ashi bin Syuraim yang melahirkan 1 anak, Misy’al (1913 – 1931). Jauh setelah wafatnya Pangeran Saud, al-Fahdah menikah dengan Raja Abdul Aziz Al Saud, dan memiliki anak yang bernama Abdullah, Abdullah adalah Raja Arab Saudi pada tahun 2005 – 2015.
4 istri Pangeran Saud yang lainnya; Putri Asy-Syahah al-Waj’an yang melahirkan 1 anak, Pangeran Muhammad (1914 – 1973), Pangeran Muhammad memiliki 4 anak: Saud, Abdullah, Bandar dan Mut’ib
Istri lainnya; Putri Lu’lu’ah ash-Shalih Al Subhan yang melahirkan Pangeran Abdul Aziz (1915 – 1960), ayah dari Pangeran Thalal ar-Rasyid (wafat dibunuh di Aljazair pada tahun 2003)
Istri lainnya; Putri al-‘Anud as-Salim al-Hamud ar-Rasyid melahirkan Pangeran Saud (1920 – 1993), diberinama Saud karena lahir setelah ayahnya wafat. Pangeran Saud memiliki 2 anak, Nizar dan Muhannad.
Istri terakhir; Jauza at-Timyath, tidak memiliki anak.
Foto: Pangeran Saud sekitar umur 8 – 10 tahun di Madinah (sumber: akun twitter @saeedmadani3)
Beberapa hikmah dari sejarah diatas:

1. Politik itu kejam

2. Yang muda bisa mengalahkan yang tua

3. Pangeran di Arab jumlahnya banyak sekali, karena awalnya terdapat banyak emirat kecil, kerajaan kecil, kesultanan kecil, dan sebagainya
Wallahu A’lam

Kumpulan Foto Masjid, Istana, Benteng dan Situs Bersejarah

Masjidil Haram, Makkah al-Mukarramah, Saudi Arabia

Masjid Nabawi, al-Madinah al-Munawwarah, Saudi Arabia


King Hussein Mosque, Amman, Jordan


Al-Azhar Al-Sharif Mosque, Cairo, Egypt


Jame Asr Hassanil Bolkiah Mosque, Kiarong, Brunei Darussalam


Masjid Agung Al-Barkah, Bekasi, Jawa Barat, Indonesia


National Museum of Saudi Arabia


Al-Balad Jeddah UNESCO World Heritage Site, Saudi Arabia


Al-Hijr Madain Saleh UNESCO World Heritage Site


Al-Khazneh, Petra UNESCO World Heritage Site


Al-Deir, Petra UNESCO World Heritage Site


Aljoun Castle, Ajloun, Jordan


Umayyad Palace, Amman Citadel, Amman, Jordan


Umm Qais, Jordan


Abdullah bin Abbas Mosque, Taif, Saudi Arabia

Thee Ain Ancient Village, Al-Bahah, Arab Saudi

Thi Ain Ancient Village (Qoryah Dzi ‘Ain al-Atsariyyah)
Desa Dzi ‘Ain adalah sebuah perkampungan kuno yang terletak 20 km dari Al-Makhwah, dan 24 km dari kota Al-Bahah, Provinsi Al-Bahah Arab Saudi. Desa ini berumur lebih dari 400 tahun dan dibangun diatas sebuah gunung yang disebut dengan nama gunung putih.
Desa ini disebut dengan nama “Dzi ‘Ain” atau yang berarti “yang memiliki mata air” karena di gunung yang terletak di sebelah desa ini terdapat sebuah mata air yang mengalir sepanjang tahun. Desa ini bercuaca panas pada musim panas dan sedang pada musim dingin serta terletak pada ketinggin 1985 mdpl.
Desa terdiri dari 49 rumah, 9 rumah dengan 1 lantai, 19 rumah dengan 2 lantai, 11 rumah dengan 3 lantai, 10 rumah dengan 4 lantai. Desa ini dibangun dikelilingi tembok, degan lebar tembok antara 70 sampai 90 cm. 

Atap bangunan menggunakan kayu dari pohon Ziziphus spina-christi, adapun ruangan besar atapnya menggunakan tiang-tiang. Lantai dasar biasanya digunakan untuk ruang tamu dan untuk duduk (seperti ruang keluarga) dan lantai dua digunakan untuk tempat tidur. Selain rumah di desa ini juga terdapat Masjid.
Sebelum berdirinya Kerajaan Arab Saudi, desa ini telah menjadi saksi bisu pertempuran antar kabilah yang terjadi disini. Salah satu pertempuran penting adalah antara tentara Muhammad Ali Pasha (Turki Utsmani) dengan tentara dari kabilah Al-Zahrani dan Al-Ghamidi, yang berakhir dengan kekalahan tentara Muhammad Ali Pasha. Kuburan tentara Muhammad Ali Pasha yang ada dekat sini dikenal dengan sebutan “Qubur al-Atrak” atau “Kuburan orang-orang Turki”.
Pada tahun 2015, desa ini menjadi salah satu dari 10 situs yang didaftarkan oleh Pemerintah Arab Saudi kepada UNESCO untuk menjadi Situs Warisan Dunia di tahun-tahun yang akan datang. #theeain #thiain #saudi #saudiarabia .

Photo Credit: @muh.sobri

Bait Al-Katib di Taif, Arab Saudi

“Bait al-Katib” atau “Qashr an-Niyabah” adalah sebuah bangunan yang terletak di kota Taif, Arab Saudi dan dibangun pada tahun 1315 H. Pembangunan membutuhkan waktu 3 tahun, dengan bahan bangunan terdiri dari batu, mortar dan kayu.
Bangunan ini pada awalnya merupakan milik Muhammad Ali Abdul Wahid, Sekretaris Khusus Syarif ‘Aunurrafiq, Amir Hijaz dan Syarif Makkah (1882-1905) dibawah Turki Utsmani, oleh karena itu Istana ini disebut “Bait al-Katib” yang berarti “Rumah Sekretaris”
Raja Faisal bin Abdul Aziz menyewa bangunan ini dari anak-anak Muhammad Ali Abdul Wahid, sehingga bangunan ini disebut “Qashr an-Niyabah” yang berarti Istana Wakil, karena Raja Faisal pada waktu itu merupakan Wakil Raja dari Raja Abdul Aziz Al Saud. Tempat ini menjadi tempat tinggal Raja Faisal dan anak-anaknya Abdullah, Muhammad, Saad, Saud (Mantan Menlu Saudi 1975-2015), Khalid (Gubernur Makkah), Turki dan Sarah. Pangeran Saud lahir disini pada 1358 Hijriyah.
Pada setiap musim panas, dahulu Pemerintah Arab Saudi juga memindahkan pusat pemerintahan ke kota Taif, karena kota Taif yang terletak di pegunungan sehingga lebih sejuk dibandingkan dengan kota-kota lainnya di Arab Saudi.
Bangunan terdiri dari 4 sisi, 3 lantai, dengan arsitektur campuran Romawi kuno, Islam dan Hijaz, dekorasi berbentuk spiral sampai ke atap, jendela-jendela berbahan kayu, dengan jumlah kamar 45 buah berhiaskan marmer, 8 kamar mandi, 5 dapur, 4 atap kecil berbentuk kotak dan diatasnya terdapat atap besar. Pada waktu itu, bangunan ini dikelilingi taman-taman dan tanah pertanian, serta terdapat sumur sebagai sumber air bagi tanaman yang ada di sekitar bangunan.
Pada tahun 2014, Raja Salman bin Abdul Aziz (saat itu masih menjadi Pangeran Mahkota) dan Yayasan Raja Abdul Aziz memilih Istana ini untuk menjadi Pusat Sejarah Taif setelah bangunan ini direnovasi. #taif #saudi #saudiarabia .

Photo Credit: @muh.sobri

Napak Tilas Masjid dan Sumur Rauha’

Rauha’ merupakan sebuah tempat berupa lembah yang berjarak kurang lebih 80 KM dari Madinah Munawarah, tepat di sebelah kanan jalan Madinah-Yanbu’ bila kita berangkat dari Madinah, Rauha’ adalah salah satu diantara wilayah yang masuk jalur lama Makkah-Madinah di mana menjadi jalan utama para pedagang dan jamaah umroh maupun haji dari dan menuju makkah, Selain menjadi jalur perjalanan rauha’ juga menjadi tempat persinggahan dan peristirahatan sementara para musafir yang melewatinya karena di tempat ini terdapat sebuah sumur yang bisa diambil airnya sebagai bekal perjalanan.

Masjid Rauha


Sumur Rauha


maka tak heran bila wilayah ini sangat bersejarah dan bahkan banyak disebut dalam hadist maupun siroh nabawi, berikut diantaranya :
1. RAUHA’ TEMPAT SINGGAH DAN SHALAT RASULULLAH ﷺ SAAT MENUJU MEKKAH
عن نافع أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ حَدَّثَهُ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ صَلَّى حَيْثُ الْمَسْجِدُ الصَّغِيرُ الَّذِي دُونَ الْمَسْجِدِ الَّذِي بِشَرَفِ الرَّوْحَاءِ وَقَدْ كَانَ عَبْدُ اللَّهِ يَعْلَمُ الْمَكَانَ الَّذِي كَانَ صَلَّى فِيهِ النَّبِيُّ ﷺ يَقُولُ ثَمَّ عَنْ يَمِينِكَ حِينَ تَقُومُ فِي الْمَسْجِدِ تُصَلِّي وَذَلِكَ الْمَسْجِدُ عَلَى حَافَةِ الطَّرِيقِ الْيُمْنَى وَأَنْتَ ذَاهِبٌ إِلَى مَكَّةَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْمَسْجِدِ الْأَكْبَرِ رَمْيَةٌ بِحَجَرٍ أَوْ نَحْوُ ذَلِكَ (رواه البخاري)
Dari Nafi bahwa Abdullah bin ‘Umar menceritakan bahwasanya Nabi ﷺ pernah melaksanakan shalat di masjid kecil, bukan masjid yang terdapat di Syarful Rauha’. ‘Abdullah mengetahui tempat yang pernah digunakan oleh Nabi ﷺ untuk shalat. Ia berkata, Disana, di sebelah kanan jika kamu berdiri shalat di masjid itu. Masjid itu terletak di sebelah kanan jalan jika kamu berjalan menuju ke arah Makkah. Jarak masjid tersebut dengan masjid besar sejauh lemparan batu atau kurang lebihnya sekitar itu (HR. Bukhori)
Kebiasaan ini lantas diikuti pula oleh sahabat Abdullah bin Umar serta anaknya Salim bin Abdullah sebagaimana diriwayatkan pula oleh Imam Bukhari
حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ عُقْبَةَ ، قَالَ : رَأَيْتُ  سَالِمَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ  يَتَحَرَّى أَمَاكِنَ مِنَ الطَّرِيقِ فَيُصَلِّي فِيهَا، وَيُحَدِّثُ أَنَّ أَبَاهُ  كَانَ يُصَلِّي  فِيهَا، وَأَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ ﷺ يُصَلِّي فِي تِلْكَ الْأَمْكِنَةِ
Dari Musa bin Uqbah berkata :”Aku pernah melihat Salim bin Abdillah, ia sedang mencari tempat-tempat di tepi jalan, kemudian dia sholat di tempat-tempat tersebut. Salim menceritakan ; bahwa ayahnya (Abdulloh Ibn Umar) pernah sholat di tempat-tempat tersebut, dan beliau pernah melihat Nabi ﷺ sholat di tempat-tempat tersebut”. (HR. Al Bukhori)
2. TEMPAT WALIMAH RASULULLAH ﷺ DENGAN UMMUL MUKMININ SHOFIYYAH BIN HUYAY
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ

قَدِمَ النَّبِيُّ ﷺ خَيْبَرَ فَلَمَّا فَتَحَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْحِصْنَ ذُكِرَ لَهُ جَمَالُ صَفِيَّةَ بِنْتِ حُيَيِّ بْنِ أَخْطَبَ وَقَدْ قُتِلَ زَوْجُهَا وَكَانَتْ عَرُوسًا فَاصْطَفَاهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِنَفْسِهِ فَخَرَجَ بِهَا حَتَّى بَلَغْنَا سَدَّ الرَّوْحَاءِ حَلَّتْ فَبَنَى بِهَا ثُمَّ صَنَعَ حَيْسًا فِي نِطَعٍ صَغِيرٍ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ آذِنْ مَنْ حَوْلَكَ فَكَانَتْ تِلْكَ وَلِيمَةَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ عَلَى صَفِيَّةَ ثُمَّ خَرَجْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ (رواه البخاري)
Dari Anas bin Malik berkata; Nabi ﷺ memasuki Khaibar. Tatkala Allah memberi kemenangan pada Nabi ﷺ atas benteng Khaibar, diceritakan kepada Beliau tentang kecantikan Shafiyah binti Huyyay bin Akhthob yang suaminya terbunuh sedangkan dia baru saja menjadi pengantin. Maka Rasulullah ﷺ memilihnya untuk diri Beliau (untuk dinikahi). 
Kemudian Beliau keluar bersama Shafiyah hingga ketika kami sudah sampai di Saddar Rauhaa’, beliau berhenti untuk singgah maka dibuatkanlah baginya makanan yang terbuat dari kurma, tepung dan minyak samin dalam wadah kecil terbuat dari kulit. 
Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda: “Persilakanlah orang-orang yang ada di sekitarmu!” Itulah walimah Rasulullah ﷺ dengan Shafiyah. Kemudian kami berangkat menuju Madinah.
3. TEMPAT NABI ISA ALAIHISSALAM MEMULAI TALBIAH HAJI/UMRAH DI AKHIR ZAMAN KELAK
عَنْ حَنْظَلَةَ الْأَسْلَمِيِّ قَالَ : سَمِعْتُ  أَبَا هُرَيْرَةَ  رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يُحَدِّثُ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ “وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَيُهِلَّنَّ ابْنُ مَرْيَمَ بِفَجِّ الرَّوْحَاءِ، حَاجًّا أَوْ مُعْتَمِرًا، أَوْ لَيَثْنِيَنَّهُمَا”.
Dari Handzalah Al Aslami bahwa Abu Hurairah berkata dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau berkata “Demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguhnya Ibnu Maryam memulai Tahlil (talbiah) di Fajjur Rauhaa’ untuk haji atau umrah, atau melakukan keduanya (Yakni menggabungkan haji dan umrah)” (HR. Muslim)
4. TEMPAT SINGGAH DAN SHALAT 70 NABI SEBELUM NABI MUHAMMAD ﷺ
Disebutkan oleh Imam Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Fathul Bari’ :
وفي الترمذي من حديث عمرو بن عوف {أن النبي صلى الله عليه وسلم صلى في وادي الروحاء وقال ” لقد صلى في هذا المسجد سبعون نبيا “}
Dalam riwayat At Tirmidzi dari Hadist Amr bin Auf bahwa Rasulullah ﷺ ketika di lembah Rauha’ beliau berkata “Telah Sholat di Masjid ini 70 Nabi”.
5. SATU DIANTARA LEMBAH-LEMBAH SURGA
عن عمرو بن عوف المزني -رضي الله عنه- أنه قال : قال رسول الله للروحاء: “هذه سجاسج وادٍ من أودية الجنة، لقد صلى في هذا المسجد قبلي سبعون نبيا، ولقد مر به موسى -عليه السلام- عليه عباءتان قطوانيتان على ناقة ورقاء في سبعين ألفا من بني إسرائيل حاجين البيت العتيق، ولا تقوم الساعة حتى يمر به عيسى بن مريم عبد الله ورسوله؛ حاجا أو معتمرا أو يجمع الله له ذلك». رواه الإمام الطبراني في معجمه الكبير وحسنه الترمذي
Dari Amr bin Auf Al muzani bahwa Rasulullah ﷺ bersabda mengenai Rauha’ :”Dataran lembah ini adalah satu dari lembah-lembah surga dan telah Shalat di masjidnya 70 Nabi sebelum aku, dan telah lewat di Rauha’ pula Musa Alaihissalam dengan mengenakan dua jubah tebal di atas unta putih bersama dengannya 70 ribu bani israil untuk haji ke bait atiq (Ka’bah) dan tidak akan terjadi kiamat sampai Isa bin Maryam melewati tempat ini untuk haji atau umroh (HR. At Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir dan dihasankan oleh At Tirmidzi)
6. TEMPAT ALLAH MENURUKAN TIMBA BERISI AIR DARI SURGA UNTUK MINUM SHAHABIYAH UMMU AIMAN
Hal ini disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam Bidayah Wa Nihayah Juz 6 Hal. 214
Terakhir mengenai keotentikan lokasi masjid ini maka Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Fathul Bari’ saat mensyarah hadist ysng telah disebutkan di atas berkata “Dan Masjid-Masjid di Rauha’ diketahui lokasinya oleh penduduk di daerah itu”, Wallahualam.
(Oleh : Muhammad Salim Kholili)

Kumma, Peci Khas Oman

“Kumma” atau “Qahfiyah” adalah penutup kepala khas Oman. Kumma yang dibuat dengan tangan harganya mencapai 50 Riyal Oman atau sekitar 160 USD, adapun Kummah yang dibuat menggunakan mesin harganya sekitar 9 sampai 15 USD, namun masyarakat Oman lebih senang menggunakan Kumma yang terbuat dari tangan.
Salah satu fungsi kumma adalah agar kepala tidak terkena sinar matahari, karena musim panas di Oman, panasnya antara 40 hingga 50°C. Kementerian Pendidikan Oman juga mewajibkan para pelajar di Oman untuk menggunakan dardashah (gamis khas Oman) dan Kumma sebagai seragam sekolah.
Kumma diproduksi di hampir seluruh wilayah Oman, sebagian besar di daerah Barka, Qurayyat dan Muttrah, dengan dua tipe; “Nishf Najm” atau setengah bintang dan “Najm Kamil” atau bintang penuh; tergantung dari ukiran, ketelitian dan kualitasnya.
Kumma juga digunakan oleh masyarakat Zanzibar, Tanzania, Afrika Timur. Zanzibar sendiri pernah berada dibawah pengaruh Kesultanan Oman, Sultan Said bin Sultan (1807-1858) memindahkan ibu kota kesultanan ke Stone Town di Zanzibar. Setelah wafatnya Sultan Said, kesultanan terbagi menjadi 2, Kesultanan Oman dipimpin oleh Sultan Thuwaini dan Kesultanan Zanzibar dipimpin oleh Sultan Majid keduanya merupakan putra dari Sultan Said.
Ternyata Kumma bukan hanya diproduksi dari dalam Oman, ada juga yang diproduksi dari Filipina, Thailand dan Bangladesh, yang dijual dengan harga 10 Rial Oman atau sekitar 26 USD. Kemarin saya melihat Kumma yang dijual di Bandara Internasional Muskat yang harganya 14 Rial Oman atau sekitar setengah juta rupiah, Masya Allah 

Thee Ain Ancient Village, Al Baha

Thee Ain Ancient Village, Photo Credit: Muhammad Sobri


Al-Baha – Desa Dzi ‘Ain adalah sebuah perkampungan kuno yang terletak 20 km dari Al-Makhwah, dan 24 km dari kota Al-Bahah, Provinsi Al-Bahah Arab Saudi. Desa ini berumur lebih dari 400 tahun dan dibangun diatas sebuah gunung yang disebut dengan nama gunung putih.

Desa ini disebut dengan nama “Dzi ‘Ain” atau yang berarti “yang memiliki mata air” karena di gunung yang terletak di sebelah desa ini terdapat sebuah mata air dengan air yang tidak berhenti mengalir. Desa ini bercuaca panas pada musim panas dan sedang pada musim dingin serta terletak pada ketinggin 1985 mdpl.
Desa terdiri dari 49 rumah, 9 rumah dengan 1 lantai, 19 rumah dengan 2 lantai, 11 rumah dengan 3 lantai, 10 rumah dengan 4 lantai. Desa ini dibangun dikelilingi tembok, degan lebar tembok antara 70 sampai 90 cm. 
Atap bangunan menggunakan kayu dari pohon Ziziphus spina-christi, adapun ruangan besar atapnya menggunakan tiang-tiang. Lantai dasar biasanya digunakan untuk ruang tamu dan untuk duduk (seperti ruang keluarga) dan lantai dua digunakan untuk tempat tidur. Selain rumah di desa ini juga terdapat Masjid.
Sebelum berdirinya Kerajaan Arab Saudi, desa ini telah menjadi saksi bisu pertempuran antar kabilah yang terjadi disini. Salah satu pertempuran penting adalah antara tentara Muhammad Ali Pasha (Turki Utsmani) dengan tentara dari kabilah Al-Zahrani dan Al-Ghamidi, yang berakhir dengan kekalahan tentara Muhammad Ali Pasha. Kuburan tentara Muhammad Ali Pasha yang ada dekat sini dikenal dengan sebutan “Qubur al-Atrak” atau “Kuburan orang-orang Turki”.
Pada tahun 2014, desa ini menjadi salah satu dari 10 situs yang didaftarkan oleh Pemerintah Arab Saudi kepada UNESCO untuk menjadi Situs Warisan Dunia di tahun-tahun yang akan datang.

Bait Al-Katib, Taif

Bait Al-Katib, Photo Credit: Muhammad Sobri

Taif – “Bait al-Katib” atau “Qashr an-Niyabah” adalah sebuah bangunan yang terletak di kota Taif, Arab Saudi dan dibangun pada tahun 1315 H. Pembangunan membutuhkan waktu 3 tahun, dengan bahan bangunan terdiri dari batu, mortar dan kayu.
Bangunan ini pada awalnya merupakan milik Muhammad Ali Abdul Wahid, Sekretaris Khusus Syarif ‘Aunurrafiq, Amir Hijaz dan Syarif Makkah (1882-1905) dibawah Turki Utsmani, oleh karena itu Istana ini disebut “Bait al-Katib” yang berarti “Rumah Sekretaris”
Raja Faisal bin Abdul Aziz menyewa bangunan ini dari anak-anak Muhammad Ali Abdul Wahid, sehingga bangunan ini disebut “Qashr an-Niyabah” yang berarti Istana Wakil, karena Raja Faisal pada waktu itu merupakan Wakil Raja dari Raja Abdul Aziz Al Saud. Tempat ini menjadi tempat tinggal Raja Faisal dan anak-anaknya Abdullah, Muhammad, Saad, Saud (Mantan Menlu Saudi 1975-2015), Khalid (Gubernur Makkah), Turki dan Sarah. Pangeran Saud lahir disini pada 1358 H.
Pada setiap musim panas, dahulu Pemerintah Arab Saudi juga memindahkan pusat pemerintahan ke kota Taif, karena kota Taif yang terletak di pegunungan sehingga lebih sejuk dibandingkan dengan kota-kota lainnya di Arab Saudi.
Bangunan terdiri dari 4 sisi, 3 lantai, dengan arsitektur campuran Romawi kuno, Islam dan Hijaz, dekorasi berbentuk spiral sampai ke atap, jendela-jendela berbahan kayu, dengan jumlah kamar 45 buah berhiaskan marmer, 8 kamar mandi, 5 dapur, 4 atap kecil berbentuk kotak dan diatasnya terdapat atap besar. Pada waktu itu, bangunan ini dikelilingi taman-taman dan tanah pertanian, serta terdapat sumur sebagai sumber air bagi tanaman yang ada di sekitar bangunan.
Pada tahun 2014, Raja Salman bin Abdul Aziz (saat itu masih menjadi Pangeran Mahkota) dan Yayasan Raja Abdul Aziz memilih Istana ini untuk menjadi Pusat Sejarah Taif setelah bangunan ini direnovasi.

Pengalaman Transit di Qatar 2017

Di Museum of Islamic Art, Doha, Qatar bersama Affan Muhammad Hamzah dan Bambang Ridlo

Rabu, 31 Mei 2017, pesawat kami dari Bandara Internasional Prince Muhammad bin Abdulaziz, Madinah, Arab Saudi menuju Bandara Internasional Hamad, Doha, Qatar mengalami delay selama 1 jam, yang mana seharusnya pukul 16.15 kami take off akhirnya kami baru terbang pukul 17.15 waktu Arab Saudi. 

Pukul 19.00 kami mendarat di Bandara Internasional Hamad, Doha, Qatar, sebelum mendarat kami telah berbuka puasa di atas pesawat karena memang sudah masuk waktu maghrib diatas udara Dammam.

Ta’jil yang diberikan oleh Qatar Airways, penerbangan Madinah-Doha


Dari Terminal kedatangan, sebagian kawan-kawan kami yang telah ketinggalan pesawat karena delay di Madinah dikumpulkan oleh pihak maskapai Qatar Airways untuk dialihkan ke penerbangan selanjutnya.

Saya dan satu kawan saya di Madinah, Bambang Ridlo, mengkontak salah satu kawan kami yang sedang berada di Qatar, Affan Muhammad Hamzah untuk minta dijemput dari Bandara, hehehe. Saya dan Ridlo belum tahu apakah kita berhasil mendapatkan visa masuk Qatar, karena kami transit hanya sekitar 8 jam.

Alhamdulillah, setelah muhawalah, mondar-mandir dari satu antrian ke antrian lainnya, ngobrol dari satu petugas imigrasi ke petugas imigrasi lainnya, akhirnya kami dapat visa masuk Qatar selama 1 bulan (meskipun cuma dipakai hitungan jam, hehehe). Untuk membayar visa Qatar ini, harus menggunakan kartu kredit, karena kami tidak punya, maka kami harus membuat kartu QNB (Qatar National Bank) terlebih dahulu.


Alhamdulillah, Qatar menjadi negara ke-7 yang saya kunjungi setelah Arab Saudi, Singapura, Yordania, Mesir, Brunei Darussalam dan Malaysia. (Sempet transit di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, tapi kalau transit doang nggak dihitung 😂).

Syarat-syarat mendapatkan Visa Qatar

Apa saja syarat-syarat supaya mendapatkan Visa Qatar? Jika anda ingin berkunjung ke Qatar dalam waktu yang lama, tentu saja anda harus apply di Kedutaan Qatar di negara anda. Jika anda terbang dan transit di Qatar selama 2 atau 3 hari, maka anda bisa keluar bandara dengan mengikuti program city tour.

Beberapa tempat yang kami kunjungi di Qatar

1. Museum of Islamic Art

2. Souq Waqif

3. Masjid Imam Muhammad bin Abdul Wahhab

4. Pencakar langit-pencakar langit di kota Doha


Museum of Islamic Art

Museum of Islamic Art (MIA) adalah sebuah Museum yang terletak di kota Doha, ibu kota Qatar. Museum ini didesain oleh I. M. Pei, dimana desain museum sesuai dengan arsitektur Islam lama. Museum ini memiliki luas 45.000 m2 dan terletak di tepi pelabuhan Doha, di bagian selatan teluk Doha. Museum ini mulai dibuka pada 22 November 2006 oleh Emir Hamad bin Khalifa Al Thani, Emir Qatar pada saat itu. (Sumber: Wikipedia Bahasa Arab)


Souq Waqif

Souq Waqif adalah sebuah pasar tradisional yang menjadi salah satu tempat wisata di kota Doha. Pasar ini menggabungkan antara tradisi dan orisinalitas dengan kota yabg modern, yang merupakan tempat wisata dan tempat bersejarah paling terkenal yang paling banyak dikunjungi oleh wisatawan dan masyarakat Qatar. Pasar ini juga dikenal menjual berbagai barang-barang tradisional serta menyediakan makanan-makan Arab, tradisional dan internasional.

Toko-toko yang ada di Souq Waqif, sebagian besar mulai buka pada pukul 10.00 pagi hingga pukul 12.00 siang dan buka kembali pukul 16.00 sore sampai pukul 22.00 malam. Souq waqif merupakan satu-satunya pasar yang menjadi tempat paling padat penduduk di kota Doha, dimana pasar ini terdapat restoran-restoran yang menyediakan makanan-makanan tradisional Qatar serta berbagai macam makanan khususnya dari Timur Tengah. Di Souq Waqif juga terdapat kafe-kafe, restoran-restoran yang buka hingga malam hari (sebagiannya buka 24 jam). (Sumber: Wikipedia Bahasa Arab)


Masjid Imam Muhammad bin Abdul Wahhab

Masjid Imam Muhammad bin Abdul Wahhab adalah Masjid Nasional sekaligus Masjid terbesar di negara Qatar. Masjid ini dibuka pada 21 Muharram 1433 Hijriah yang bertepatan dengan 16 Desember 2011. (Sumber: Wikipedia Bahasa Arab)


Pemandangan pencakar langit yang ada di kota Doha, terlihat dari Masjid Imam Muhammad bin Abdul Wahhab.

Dari tempat-tempat diatas, ada tempat  yang belum kami kunjungi (semoga kedepannya bisa kami kunjungi 😅) yaitu Qatar Education City, sebuah pusat pendidikan di Qatar yang terdapat di dalamnya berbagai Universitas kelas dunia.