Ibnu Sina Mengaku Sebagai Nabi?

  

 

Ibnu Sina telah mencapai puncak ketenarannya, telah menguasai ilmu agama sebelum umur 20 tahun, kemudian mendalami ilmu kedokteran, namanya selalu mengagumkan orang yang mendengarnya, sampai-sampai sebagian mereka berkata, 

لو كان بعد النبي صلى الله عليه وسلم نبي لكان نبيا
“Andaikan setelah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alahi Wasallam ada Nabi, maka Ibnu Sina lah yang berhak menjadi Nabi”
Hingga suatu ketika sampailah perkataan tersebut di telinga Ibnu Sina, dari mulut salah satu murid terdekatnya. Murid ini berkata, “Wahai Guru, jika engkau mengaku sebagai Nabi, akan banyak yang menjadi pengikutmu”
Tidak terbayang seperti apa jawaban yang keluar dari mulut sang guru, muridnya duduk terdiam menunggu sang guru menjawab, namun, setelah beberapa saat Ibnu Sina tetap tidak menjawab.
Murid ini adalah orang terdekat Ibnu Sina yang selalu berkhidmah kepada beliau. Sebelum fajar menyingsing, Ibnu Sina terbangun seperti biasanya, segeralah ia menghapiri murid tersebut yang masih tertidur dan membangunkannya. “Wahai muridku, bangunlah! tolong ambilkan air wudhuku! guna melaksanakan salat tahajjud, namun murid itu tetap terbujur kaku malas dan sesekali menggeliat tanda terganggu dari kenikmatan tidurnya. 
Ibnu Sina mengulang perintahnya, namun sang murid memberikan ekspresi yang sama, kemudian Ibnu Sina mengulang perintahnya lagi namun dijawab dengan bahasa yang sama. Kemudian Ibnu Sina diam sambil menajamkan matanya sebagai mana orang marah.
Si murid yang mendengar gurunya sudah berhenti menyuruh, langsung menyadarkan diri dan menujukan perhatiannya kepada sang guru yang sudah memplototinya dari tadi, dengan sedikit rasa ketakutan.
Tiba-tiba Ibnu Sina berkata, “Ingat pertanyaanmu tadi malam?” Si murid berpikir sesaat, kemudian menjawab “iya” Ibnu Sina berkata, “Aku tidak pernah melihat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alahi Wasallam, jarak diantara beliau dan aku 4 Abad lamanya, tapi aku tetap setia, walau harus bangun di malam hari melawan rasa kantuk, begitu juga seluruh orang muslim di dunia, dengan kesetiaan penuh kepada Nabinya Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, walaupun mereka tidak pernah melihat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, namun engkau wahai muridku, yang selalu bersamaku, siang dan malam, baik di rumah atau perjalanan, tatkala aku meminta mengambilkan sedikit air wudhu, engkau tidak mau, bermalas-malasan, tidak mengindahkan perkataanku, kalau ini sikap orang yang terdekat denganku, bagaimana dengan orang yang tidak pernah melihatku? Sekarang engkau tau kenapa aku tidak mengaku sebagai Nabi?
– selesai –
Wallahu Ta’ala A’lam, wa Shallallahu ‘ala Sayyidinaa Muhammad wa ‘ala Aalihi wa Shahbihi wa Sallam
Ditulis oleh al-Faqir, dalam perjalanan dari Makkah al-Mukarramah menuju ke al-Madinah al-Munawwarah.
16 Jumada ats-Tsaniyyah 1437 H/25 Maret 2016 M

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: