Renovasi Masjid Nabawi Pada Masa Pemerintahan Mamluk

image

Setelah runtuhnya Kekhalifahan ‘Abbasiyah dengan dibunuhnya Khalifah al-Mu’tashim Billah oleh pasukan Tatar pada tahun 656 Hijriah, maka kota Madinah diserahkan kepada Daulah Mamluk di Mesir, pembangunan Masjid Nabawi diselesaikan oleh Raja Mesir al-Manshur Nuruddin Ali bin
Aibak dengan bantuan Raja Yaman al-Muzhaffar Yusuf bin Umar bin Ali bin Rasul. Pada tahun 657 Hijriah, Raja Mesir Al-Manshur Nuruddin turun kemudian digantikan oleh Raja Al-Muzhaffar Saifuddin Quthuz yang membangun proyek renovasi Masjid Nabawi pada tahun tersebut dari Bab as-Salam sampai Bab ar-Rahmah dan dari Bab Jibril sampai ke Bab an-Nisa, proyek belum selesai hingga wafatnya Raja, setelah beliau naiklah Raja az-Zhahir Baibars, maka ia mempersiapkan kayu, besi dan timah, mengirim 53 arsitel, dan mengirim Pangeran Jamaluddin Muhammad ash-Shalihi, dan memberikan apa yang dibutuhkan untuk menyelesaikan proyek ini dari alat-alat maupun pendanaan, hingga selesailah sisa renovasi masjid ini.

Masjid tidak mengalami perluasan dan renovasi hingga pada tahun 678 Hijriah, pada masa pemerintahan Raja an-Nashir Muhammad bin Qalawun ash-Shalihi, dibangunlah diatas makam Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebuah kubah yang terbuat dari kayu (yang saat ini dikenal sebagai kubah hijau), berbentuk persegi empat dari bawahnya, persegi delapan di atasnya, dengan kayu yang didirikan di ujung tiang-tiang. Kemudian diantara tahun 705-706 Hijriah, Sultan Muhammad bin Qalawun merenovasi atap bagian timur dan bagian barat (yang terletak di sebelah kanan dan kiri halaman masjid). Hingga pada tahun 729 Hijriah, Sultan Muhammad bin Qalawun memerintahkan untuk menambah serambi di bagian yang telah tertutup atap dan ke arah kiblat menyambung hingga akhir masjid. Akhirnya terdapat kesalahan dalam renovasi tersebut, hingga renovasi berikutnya dilakukan oleh al-Asyraf Saifuddin Barsbay pada bulan Dzulqa’dah 831 Hijriah. Rekonstruksi juga dilakukan di atap bagian utara. Hingga terjadi kesalahan di atap Raudhah dan selainnya dari atap Masjid di zaman Azh-Zhahir Saifuddin Jaqmaq, yang mana beliau melakukan rekonstruksi pada tahun 853 Hijriah, dibawah pimpinan Pangeran Bardbak an-Nashir dan lain-lain.

Pada tahun 881 Hijriah, Sultan Qaitbey, Sultan Mamluk yang paling memiliki perhatian dalam pembangunan Masjid Nabawi, memerintahkan untuk merekonstruksi total Masjid dibawah pimpinan al-Khawajaki asy-Syamsi Syamsuddin bin az-Zaman. Pada malam 13 Ramadhan 886 Hijriah yang bertepatan dengan tahun 1481 Masehi telah terjadi insiden kebakaran Masjid Nabawi, yang merupakan kebakaran kedua, awan-awan berkumpul di atas Madinah hingga muncul halilintar, petir pun merubuhkan menara utama yang jatuh ke arah timur masjid, kemudian wafat kepala muazin pada hari itu, api meletus di atap masjid sampai ke menara utama yang terletak di tenggara masjid, penduduk Madinah pada waktu berkumpul untuk memadamkan api, namun usaha mereka tidak berhasil, hingga api melahap seluruh atap dan pintu masjid, hingga rak buku dan mushaf. Setelah kejadian itu, Sultan Qaitbey merekonstruksi ulang masjid, ia mengirim ratusan bangunan, tukang kayu, tukang batu, tukang pahat dan tukang besi, juga mengirim harta yang banyak, alat-alat, keledai dan unta, itu semua untuk menyelesaikan pembangunan Masjid sebaik mungkin, ia menambahkan sekitar 1,2 meter bagian tenggara masjid, membangun atap masjid setinggi 11 meter, serta membangun kubah hijau di atas makam Rasulullah untuk mengganti kubah biru yang ada sebelum kebakaran, kemudian memasangkan marmer di dalam makam Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan di sekitarnya, dan juga memasang marmer di tembok yang menghadap kiblat, juga membangun mimbar dan bangku untuk muadzin yang terbuat dari marmer, serta membangun kubah yang terletak di atas Mihrab Utsmani dan dua kubah yang ada di depan Bab as-Salam dari dalam, kubah-kubah ini terbungkus oleh marmer putih dan hitam. Pembangunan ini selesai pada akhir Ramadhan tahun 888 Hijriah bertepatan dengan tahun 1483 Masehi.

Referensi:
1. Kitab Wafa’ul Wafa bi Akhbari Dar al-Musthafa, karya Imam as-Samhudi, Jilid 2, halaman 150-155 dan 175-185, Penerbit Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Cetakan Pertama
2. Ensiklopedia al-Madinah al-Munawwarah, Kubah-kubah Masjid Nabawi
3. al-Madinah al-Munawwarah, Pembangunan dan Peninggalan Arsitektur, Karya Shalih Lam’i Musthafa, halaman 84, Cetakan Dar an-Nahdhah

Foto: Segilima tersebut adalah makam Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘Anhu dan Khalifah ‘Umar bin al-Khattab Radhiyallahu ‘Anhu.

Awalnya berbentuk segi empat, kemudian dirubah oleh Khalifah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz menjadi segi lima agar tidak menyerupai ka’bah.

Replika al-Hujrah an-Nabawiyyah setelah terjadinya kebakaran pada malam 13 Ramadhan 886 Hijriah/1481 Masehi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: